Entri Populer

Jumat, 13 April 2012

Problem Pendidikan di Negara Maju dan berkembang


BAB I
Pendahuluan

A.  Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang penting baik negara yang sudah maju maupun negara-negara yang sedang berkembang. Bagi negara maju, pendidikan digunakan sebagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas hidup para warga negaranya. Sedangkan bagi negara-negara yang sedang berkembang, pendidikan dilaksanakan sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan mereka dikancah internasional sehingga mereka dapat disejajarkan dengan negara-negara maju.

Namun, pendidikan baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang bukanlah tanpa masalah. Negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Jepang, yang tergolong maju juga masih memiliki masalah mengenai pendidikan yang disebabkan oleh beberapa faktor.  Apalagi dengan negara yang sedang berkembang. Dengan segala kekurangannya,  negara yang sedang berkembang juga memiliki masalah pendidikan yang semakin kompleks.
Melalui perbandingan pendidikan dapat diketahui apa sebenarnya masalah-masalah yang membelit dunia pendidikan di negara-negara maju dan juga negara-negara yang berkembang. Perbandingan itu tentunya akan menjadi refleksi dari sistem pendidikan di Indonesia sendiri. Oleh karena itu, menarik untuk dikaji, apa sebenarnya masalah-masalah pendidikan yang terjadi di negara-negara tersebut.


B. Rumusan Masalah
1. Apa problem pendidikan yang terjadi di negara maju?
2. Apa  problem pendidikan yang terjadi di negara berkembang?







BAB II
Pembahasan

A. Problem Pendidikan di Negara Maju
            Pendidikan di negara-negara maju bukannya tidak mengalami masalah. Seperti halnya di negara-negara berkembang ada beberapa masalah yang dihadapi oleh pendidikan di negara-negara maju. Sebagai contoh negara-negara maju yang mengalami beberapa masalah di bidang pendidikan antara lain Inggris, Jepang, Amerika Serikat dan Turki.
1. Inggris
Ada beberapa masalah pendidikan di Inggris yang cukup mendapatkan perhatian dari kalangan pemerhati pendidikan di sana. Persatuan Guru Nasional Inggris dan Wales mengemukakan ada beberapa masalah kependidikan yang dihadapi oleh pendidikan Inggris. Masalah-masalah tersebut antara lain[1]:
a. The relationship between education and employment and preparation for the transition from school to work.
Masyarakat Inggris berpandangan bahwa tugas pokok sekolah adalah membantu siswa memecahkan masalah. Termasuk di dalamnya yaitu membantu siswa memecahkan masalah transisi dari sekolah menuju dunia kerja. Masyarakat Inggris menghendaki adanya fungsi nyata dari lulusan suatu sekolah dalam arti bagaimana lulusan tersebut dapat didayagunakan dalam dunia kerja. Mereka menginginkan adanya hubungan antara lingkungan pendidikan dengan dunia kerja. Oleh karenanya, sekolah diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan, holding company dan sebagainya.
b.  A commitment to life-longeducation
Pendidikan di Inggris tengah berupaya agar prinsip pendidikan sepanjang hayat (long life education) dapat terlaksana. Upaya ini dilakukan agar mereka yang sudah berusia lanjut juga terus mendapatkan pendidikan. Hal ini dikarenakan ada sebagian orang-orang lanjut usia yang pada masa kanak-kanaknya kurang mengenyam pendidikan. Dengan adanya usaha ini diharapkan adanya pemerataan pendidikan baik muda maupun tua sesuai dengan prinsip long life education.
c. The expansion of educational facilities
Salah satu resiko dari pengembangan sarana pendidikan adalah biaya yang dikeluarkan akan semakin banyak. Apalagi di era arus informasi dan teknologi yang semakin hari semakin berkembang dengan cepat sehingga membutuhkan sarana pendidikan yang dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini agar pendidikan Inggris tidak ketinggalan zaman.
Dampak dari pengembangan sarana pendidikan berteknologi tinggi,  akan mengurangi tenaga kerja guru itu sendiri. Akibatnya banyak guru-guru yang akan menganggur. Namun  di lain pihak apabila fasilitas tidak terpenuhi atau kurang maka akan menimbulkan hambataan belajar sehingga kurang optimalnya proses belajar siswa. Hal ini juga akan berdampak pada ekonomi Inggris di masa mendatang.
d.  Teacher education for tomorrow
Pendidikan guru juga merupakan masalah yang harus diperhatikan. Sistem dan metode pengajaran hendaknya dapat memenuhi permintaan masyarakat yang menginginkan hasil yang bagus. Untuk menangani masalah tersebut, pendidikan profesi keguruan di Inggris dipersiapkan secara matang selama 4 tahun. Melalui pendidikan tersebut, guru diharapkan dapat menjelaskan tentang kenyataan hidup dalam masyarakat plural yang multirasial dan multikultural.   

2. Jepang
Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang digolongkan sebagai negara maju. Akan tetapi, sebagai negara maju Jepang juga mengalami beberapa masalah mengenai kependidikan. Adapun permasalah kependidikan yang dialami Jepang adalah sebagai berikut:[2]
a. Hubungan antara program kependidikan di lembaga- lembaga kependidikan dengan dunia kerja
Masalah ini justru datang dari para lulusan perguruan tinggi. Para lulusan perguruan tinggi cenderung memilih untuk kerja di lembaga pemerintahan. Hal ini berbanding terbalik dengan usaha pemerintah yang ingin melakukan pengurangan pegawai negeri. Dengan kondisi yang demikian, maka akan terjadi banyak pengangguran intelektual dari lulusan universitas.
Pendidikann  Jepang menitikberatkan pada ahli teknologi tinggi demi memenuhi kebutuhan masyarakat modern, akibatnya terjadi dehumanisasi dengan banyaknya tuntutan dari para pencari kerja, terutama dari kalangan non teknis. Salah satu upaya penanganan tersebut maka perlu adanya sekolah atau pendidikan yang dapat membangun pertumbuhan tenaga kerja intelektual yang terampil dan professional di bidang usaha swasta
b. Persiapan menghadapi masa peralihan dari masa sekolah ke masa kerja serta masa hidup bermasyarakat.
Sesuai dengan keadaan pada poin a, maka perlu adanya persiapan peralihan dari dunia pendidikan menuju dunia kerja serta hidup di masyarakat. Di Jepang, masa peralihan terjadi pada pendidikan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Bagi mereka lulusan sekolah kejuruan tidak begitu menimbulkan permasalahan, karena mereka telah dibekali keahlian sesuai dengan jurusan masing-masing sehingga keterampilan mereka dapat digunakan dalam dunia kerja. Sedangkan bagi lulusan sekolah umum dan perguruan tinggi hendaknya ada suatu strategi khusus guna menyiapkan lulusan tersebut agar dapat memiliki daya guna di masyarakat.
c. Pendidikan seumur hidup
Pemberian kesempatan belajar di lembaga non-formal perlu diperhatikan agar konsep pendidikan seumur hidup dapat terlaksana. Aspek lainnya yaitu kerjasama antara orang tua, guru dan siswa dalam proses pendidikan. Sistem ini diharapkan dapat memantau perkembangan siswa baik itu di sekolah maupun di rumah.
d. Perluasan fasilitas dan pelayanan kependidikan dalam menghadapi bertambahnya hambatan ekonomi
Masalah ini dikarenakan di Jepang juga terjadi pemusatan pemukiman di kota atau urbanisasi. Dampak dari urbanisasi tersebut dalam kependidikan adalah kurang tersedianya sarana gedung sekolah, karyawan administratif kependidikan serta penanganan siswa yang tidak tertampung di sekolah. Dengan begitu maka biaya yang harus dikeluarkan pemerintah juga semakin besar.
Adapun instansi yang menangani pembiayaan pendidikan adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah serta badan-badan lain. Dari ketiga instansi tersebut pemerintah daerah adalah instansi yang paling besar dalam menanggung pembiayaan pendidikan.
e. Penyediaan tenaga guru yang lebih bermutu untuk mempersiapkan anak didik menghadapi masyarakat masa depan yang semakin kompleks
Pendidikan Jepang mengusahakan agar para siswa yang cerdas dan pandai tertarik pada profesi guru. Tugas pokok guru di Jepang adalah membentuk karakter  para siswa.  Beberapa lembaga pendidikan guru perlu ditingkatkan mutu dan arah pengembangannya pada pendidikan karakter.
f.  Pemerataan dan efektivitas  pendidikan
Penerimaan untuk bersekolah harus didasarkan hanya pada faktor kemampuan individual anak, bukannya pada status sosial orang tuanya. Siswa yang berkemampuan rendah pun harus diberi pendidikan sama dengan berkemampuan tinggi, agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin melebar dalam masyarakat masa depan.

3. Amerika Serikat
Amerika Serikat adalah negara adikuasa dari beberapa aspek. Pendidikan di Amerika Serikat pun juga tergolong maju. Terbukti banyak universitas dan perguruan tinggi di AS yang menjadi tujuan favorit untuk melanjutkan studi. Universitas itu antara lain UCLA, Boston College, Yale University, Harvard University dan lain-lain.
Namun pendidikan di Amerika Serikat juga tidak terlepas dari masalah. Washington Post pada tahun 2011 mengemukakan ada dua problem yang terjadi pada pendidikan di Amerika Serikat. Pertama, sesuai laporan dari Organization of Economic Cooperation and Development (OECD), menunjukkan adanya penurunan tingkat lulusan pemuda dewasa pada perguruan tinggi. Sedangkan yang kedua adalah meningkatnya jumlah pinjaman para mahasiswa yang melebihi batas tempo.[3]
Menurut Dr. James M. Lindsay[4], ada beberapa sebab yang menjadikan turunnya tingkat kelulusan di perguruan tinggi serta meningkatnya jumlah pinjaman yang dilakukan oleh mahasiswa. Salah satu penyebabnya adalah semakin meningkatnya biaya pendidikan di perguruan tinggi. Banyak mahasiswa yang membiayai kuliah dengan mengandalkan pinjaman sebagai investasi dalam bentuk human capital. Namun apabila jumlah pinjaman tersebut meningkat tajam serta banyak yang habis jatuh temponya maka juga akan menjadi masalah.

4. Turki[5]
Menurut informasi ada beberapa masalah yang menjadi permasalahan di Turki. Masalah dasar dari sistem pendidikan tinggi di Turki adalah sebagai berikut:[6]
a.    Jumlah siswa dengan gelar doktor di universitas tidak cukup karena siswa tidak didorong untuk mengejar gelar doktor dan bekerja di universitas.
b.    Universitas di Turki kurang memperhatikan masalah masyarakat dan telah gagal untuk mengembangkan kerjasama dengan lembaga-lembaga negara dan lembaga swadaya masyarakat pada isu-isu seperti pendidikan, perawatan kesehatan, energi, pertanian dan jasa kota.
c.    Program pendidikan di perguruan tinggi tidak siap untuk memenuhi kebutuhan sektor usaha, ini berarti ada ketidakharmonisan antara siswa memperoleh keterampilan di universitas dan ketrampilan yang dituntut oleh kalangan bisnis.
d.   Lembaga pendidikan tinggi di Turki juga gagal memberikan dukungan yang cukup untuk pembangunan ekonomi negara.
e.    Universitas Turki tertinggal di belakang perkembangan dunia mengenai lisensi dan transfer teknologi.
f.      Kebanyakan anggota staf akademik di universitas tidak dilengkapi dengan pengetahuan pedagogis.



B. Problem Pendidikan Negara Berkembang
Negara-negara berkembang merupakan negara yang baru memulai untuk bangkit mengadakan pembangunan di berbagai aspek baik itu ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Dengan demikian ada beberapa ciri dari negara berkembang yaitu:
1.      Secara politis, pada umumnya baru mengalami kemerdekaan atau lepas dari penjajahan
2.      Secara ekonomi, pada umumnya miskin dan masih sangat bergantung pada alam
3.      Secara demografis, pada umumnya padat penduduk, dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi
4.      Secara budaya, kokoh berpegang pada warisan budaya[7]
Beberapa hal di atas sangat berpengaruh terhadap kebijakan yang diambil pemerintah dalam pembangunan. Hal ini pun berdampak pada sistem pendidikan nasional.
Seperti halnya negara maju, negara berkembang memiliki berbagai masalah pendidikan yang semakin kompleks. Yang dimaksud kompleks adalah karena dari segi ekonomi dan teknologi, negara yang berkembang memang ketinggalan. Dengan berbagai ketertinggalannya tersebut mengakibatkan masalah yang timbul di dunia pendidikan pun semakin kompleks.
Berikut ini adalah contoh-contoh negara berkembang  yang mengalami persoalan-persoalan pendidikan:
  1. India
Ada beberapa masalah pendidikan yang dialami India saat ini. Permasalahan pendidikan di India banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor.
a.       Faktor  ekonomi, banyak siswa di India yang tidak dapat melanjutkan studi karena masalah biaya.
b.      Faktor social, ada anggapan bahwa wanita terutama di pedesaan tidak memerlukan pendidikan, lebih baik menjadi ibu rumah tangga saja
c.       Faktor sistem pendidikan, banyak siswa menengah atas yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kurangnya daya tampung yang disediakan oleh universitas. Selain itu, pendidikan pemerintah juga kurang memenuhi standar dibandingkan pendidikan swasta. Ada juga kasus, banyaknya mahasiswa yang menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan.
d.      Faktor kedisiplinan guru, ada beberapa kasus di India banyak guru-guru yang sudah difasilitasi oleh pemerintah tidak menjalankan tugasnya dengan semestinya.

  1. Pakistan
Pakistan sebagai negara Islam yang berkembang memiliki beberapa masalah pendidikan. Menurut data  dari UNESCO, penyelesaian studi pada pendidikan dasar di Pakistan yaitu 33,8% pada wanita dan 47,18% pada laki-laki.[8] Hal ini menunjukkan tingkat kelulusan pendidikan dasar di Pakistan sangat rendah.
Setidaknya ada 6 masalah pokok yang menjadi persoalan terjadi di Pakistan. Masalah-masalah tersebut yaitu:
a.         Faktor kemiskinan
b.         Kesenjangan antar daerah
c.         Diskriminasi gender
d.        Kurangnya pendidikan yang bersifat teknis, sehingga banyak lulusan yang tidak mempunyai skill yang mumpuni
e.         Kurangnya alokasi dana dari pemerintah
f.          Kurangnya tenaga pendidik atau guru yang professional

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa permasalahan pendidikan yang terjadi di Negara berkembang disebabkan oleh faktor ekonomi. Siswa tidak melanjutkan pendidikannya karena tidak memiliki biaya. Selain itu, kurangnya dana juga menyebabkan kurang tersedianya sarana prasarana serta teknologi yang memadai. Apalagi di era globalisasi saat ini yang berdampak pada semakin cepatnya arus informasi dan teknologi. Jika sekolah tidak siap menghadapi globalisasi maka ketertinggalan yang akan terjadi.
Masalah sosial seperti gender juga terjadi di dunia pendidikan Negara-negara berkembang, banyak wanita yang putus sekolah karena dipandang tidak perlu pendidikan tinggi. Mereka beranggapan bahwa wanita nantinya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Peningkatan kualitas guru juga menjadi masalah penting yang harus dibenahi oleh negara-negara berkembang. Pendidikan dan pelatihan menjadi guru professional menjadi sangat penting bagi negara-negara berkembang. Hal ini dikarenakan guru merupakan ujung tombak pendidikan nasional.
Menurut Tadjab dalam bukunya Perbandingan Pendidikan ada beberapa hal  mendasar yang menjadi persoalan pendidikan di negara berkembang. Setidaknya ada tiga masalah, yaitu:
1.      Peningkatan pendidikan guru
Banyak negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang kekurangan guru. Sebagian besar dari guru-guru tersebut kurang memiliki kompetensi yang memadai sebagai guru yang professional sehingga peningkatan melalui pendidikan dan pelatihan guru merupakan tugas utama negara berkembang.[9]
2.      Sistem tradisional yang ditinggalkan
Negara-negara berkembang biasanya memiliki kebudayaan yang menjadi produk unggulannya. Namun seiring perkembang zaman kebudayaan tersebut mulai diabaikan dan beralih ke sektor modern. Pengabaian kebudayaan tersebut justru akan semakin menjatuhkan pendidikan, sehingga isu menipisnya  karakter siswa mencuat akhir-akhir ini.
3.      Sistem sekolah yang banyak meng-impor dari luar negeri
Beberapa negara berkembang terutama negara jajahan mewarisi model pendidikan para penjajahnya. Hal ini terjadi di beberapa negara-negara Afrika dan Asia, yang mengadopsi model-model pendidikan seperti Perancis dan Inggris.







BAB III
PENUTUP

Simpulan
Negara-negara di dunia selalu berupaya untuk memajukan negaranya melalui sistem pendidikan. Namun usaha tersebut bukanlah tidak mengalami hambatan. Hambatan tersebut tidak hanya di alami oleh negara-negara yang sedang berkembang namun juga negara-negara yang notabene sudah maju seperti Inggris, Jepang, AS dan lain-lain.
Masalah yang di alami oleh sebagian negara maju antara lain, persoalan transisi, pemerataan, program long life education, pendidikan guru serta keefektivan penambahan fasilitas. Amerika Serikat sebagai negara super power juga mengalami masalah pendidikan terutama pendidikan di perguruan tinggi yang semakin mahal. Sedangkan Turki sebagai negara Islam modern mengalami berbagai masalah di universitasnya.
Sedangkan dari Negara yang berkembang terjadi permasalahan pendidikan yang lebih kompleks. Sebagian besar permasalahan pendidikan yang terjadi di negara berkembang disebabkan oleh faktor ekonomi. Hal ini terlihat banyaknya siswa tidak melanjutkan pendidikannya. Selain itu, kurangnya dana juga menyebabkan kurang tersedianya sarana prasarana serta teknologi yang memadai.
Peningkatan kualitas guru merupakan masalah utama yang harus dibenahi oleh negara-negara berkembang. Pendidikan dan pelatihan menjadi guru profesional menjadi sangat penting bagi negara-negara berkembang. Hal ini dikarenakan guru merupakan ujung tombak sistem pendidikan.
Masalah sosial seperti gender masih kerap terjadi di dunia pendidikan negara yang berkembang. Sebagian dari wanita-wanita itu putus sekolah karena dipandang tidak perlu mengenyam pendidikan. Masyarakat sosial di negara-negara berkembang  beranggapan bahwa wanita nantinya hanya menjadi ibu rumah tangga sehingga pendidikan dipandang tidak begitu penting.
Jika dicermati ada beberapa persamaan permasalahan yang terjadi antara negara maju dengan negara berkembang. Contohnya, masalah peningkatan guru. Setiap negara menyadari bahwa guru merupakan sosok penting dalam dunia pendidikan sehingga perlu adanya usaha peningkatan kualitas guru. Baik negara maju maupun berkembang sedang berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas guru agar pendidikan semakin maju.

DAFTAR PUSTAKA


Buku
Tadjab, 1994, Perbandingan Pendidikan: Studi Perbandingan tentang Beberapa Aspek Pendidikan Barat Modern, Islam dan Nasional, Surabaya : Karya Abditama

Internet



Diunduh Minggu 4 Maret 2012 jam 17.50 WIB



[5] Dalam buku Perbandingan Pendidikan karya Tadjab, negara Turki masuk dalam kategori negara Islam modern.
[7] Tadjab, Perbandingan Pendidikan, Cet. Ke-1(Surabaya: Karya Abditama,1994) hlm 114
[9] Tadjab, Perbandingan Pendidikan, Cet. Ke-1 (Surabaya: Karya Abditama, 1994) hlm. 121

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar